Aku tak pernah lelah...
memikirkannya,
berharap dia mendapatkan segala hal yang terbaik,
mendo'akannya.
peduli kepadanya.
menyayanginya,
Apa aku pernah mengeluh jika aku telah lelah dengan semua ini...?
TIDAK PERNAH...!!!
Bahkan... berpikir untuk merasa lelah pun tidak.
Ketika banyak orang yang menertawakanku, aku tak peduli...!!!
Apa aku salah selama ini menyayanginya?
Kenapa?
Pada kenyataannya hanya ada dia di dalam hatiku, harapanku, memoriku.
Aku tak pernah lelah untuk mencintainya...
Entahlah sampai kapan aku mampu bertahan dengan semua ini.
Ketika cinta ini tak hanya melibatkan kedua pihak antara aku dan dia.
Tapi lebih dari itu...!!!
Cinta ini melibatkan orang-orang terdekatku dan terdekatnya.
Aku harap suatu saat mereka akan mengerti tentang cinta ini.
Bahwa aku mencintainya... dengan segala hal yang ada pada dirinya.
Senin, 21 November 2011
Jumat, 09 September 2011
Dear God
Tuhan...
Begitu baiknya kah diri Mu kepada Qu? Sehingga Kau memberikan ini kepada Qu?
Sulit, berat, sakit... tapi Qu akan selalu menerimanya.
Kau memberi ini karena Kau lebih tau seberapa kapasitas kesabaran dan keikhlasan Qu dalam menghadapi setiap ujuan dari Mu.
Senyuman... sepertinya bukan hanya sesuatu yang mengungkapkan sebuah kebahagiaan lagi, tapi lebih dari itu.
Yah... Hanya karena Qu cukup kuat untuk menghadapi ini semua.
Punya hak apa Qu? Sehingga diri ini meminta hal yang lebih? Mungkin hal-hal yang Qu sukai.
Padahal hal itu belum tentu baik untuk Qu menurut Mu.
Sungguh... Qu ini tak tau apa-apa tentang diri Qu, apa hal yang baik untuk Qu.
Tuhan... Sesungguhnya hanya Kau yang mengetahui apa hal-hal yang baik untuk Qu menurut Mu.
Tuhan... Berikanlah yang terbaik untuk Qu.
Bukan hal yang terbaik menurut pandangan Qu, tapi... hal-hal yang terbaik menurut pandangan Mu.
Begitu baiknya kah diri Mu kepada Qu? Sehingga Kau memberikan ini kepada Qu?
Sulit, berat, sakit... tapi Qu akan selalu menerimanya.
Kau memberi ini karena Kau lebih tau seberapa kapasitas kesabaran dan keikhlasan Qu dalam menghadapi setiap ujuan dari Mu.
Senyuman... sepertinya bukan hanya sesuatu yang mengungkapkan sebuah kebahagiaan lagi, tapi lebih dari itu.
Yah... Hanya karena Qu cukup kuat untuk menghadapi ini semua.
Punya hak apa Qu? Sehingga diri ini meminta hal yang lebih? Mungkin hal-hal yang Qu sukai.
Padahal hal itu belum tentu baik untuk Qu menurut Mu.
Sungguh... Qu ini tak tau apa-apa tentang diri Qu, apa hal yang baik untuk Qu.
Tuhan... Sesungguhnya hanya Kau yang mengetahui apa hal-hal yang baik untuk Qu menurut Mu.
Tuhan... Berikanlah yang terbaik untuk Qu.
Bukan hal yang terbaik menurut pandangan Qu, tapi... hal-hal yang terbaik menurut pandangan Mu.
My Unconditional Love
Tak ada bosan-bosannya aku menulis tentangnya.
Aku tak peduli apa katanya atau orang lain, tapi apa salah jika aku mengungkapkan apa yang kurasa dalam sebuah catatan-catatan yang tak berarti ini?
Entahlah... seperti ada beribu-ribu kata tentangnya yang masih tersimpan di benakku.
Sebenarnya ingin ku ucapka tapi aku tak bisa, entah aku terlalu takut atau apa tapi yang jelas aku tak bisa.
Aku memiliki sebuah "rasa" kepadanya, dari dulu sebelum dia mengenal aku hingga sekarang.
"Rasa" itu masih saja tumbuh di dalam hatiku dan seolah-oleh berkembang.
Aku sendiripun tak tahu apa artinya ini semua, yang pasti "rasa" ini berbeda ketika bersamanya.
Yang kurasakan bersama dengannya itu menyenangkan dan membuatku nyaman, padahal baru pertama kali dekat dan bersama. Aku juga mungkin termasuk tipe-tipe orang yang sulit merasa nyaman ketika orang bersama orang baru. Tapi dia...? Dia orang baru buat ku, pertama kali dekat dan bersama. Tapi aku sudah mendapatkan kenyamanan bersamanya.
Yang kurasakan seakan-akan aku dan dia memiliki sebuah connection aneh yang aku sendiripun tak mengerti mengapa bisa seperti itu. Rasanya semua tentangku dan tentangnya itu saling nyambung-menyambung. Apa dia juga merasakan seperti yang kurasakan?
Aku bahkan masih peduli padanya dan menyayanginya meski rasa yang pernah dia beri untukku itu sekarang entah masih ada, berkurang, atau bahkan hilang dengan seiring berjalannya waktu dan hadirnya orang baru dihidupnya.
Tapi tak begitu denganku, rasa itu ternyata masih ada dan berkembang dihatiku.
Tak sadarkah "kau" seberapa besar rasa ini?
Tak sadarkah "kau" bahwa melihatmu sebentar saja itu mampu menenangkan hatiku?
Tak sadarkah "kau" bahwa aku masih mengingat semua tengangmu? Kesukaanmu dan harapanmu itu masih tersimpan didalam memoriku.
Tak sadarkah "kau" bahwa dirimu sering hadir disetiap mimpi-mimpiku?
Tak sadarkah "kau" bahwa dirimu selalu aku bangga-banggakan ketika aku bersama teman-temanku?
Tak sadarkah "kau bahwa seperti apa pandangan orang lain terhadapmu itu tak akan merubah apapun, termasuk perasaanku kepadamu?
Tak sadarkah "kau" bahwa aku menginginkan yang terbaik untuk dirimu?
Seseorang bertanya kepadaku "Apa sih hebatnya dia, sampai kamu tak bisa melupakannya?"
Dan akupun hanya bisa menjawab "Hatiku merasa cocok dengannya dan aku merasa nyaman dengannya."
Semua orang berhak menyayangi siapapun, tak salah dan tak dosa! Tapi jangan disalahkan jika rasa sayang itu masih ada dihati.
Mungkin aku terlalu egois karena ternyata dihatiku masih ada dirinya dan masih belum tergantikan. Bahkan untuk sekedar memberi kesempatan orang lain untuk mengisi hari-harikupun aku masih tak mau, rasanya dirinya masih terlalu berarti untuk tergantikan orang lain.
Aku mencintainya, maka aku melepasnya. Ada banyak hal yang tak bisa dimengerti dengan logika, termasuk caraku mencintainya.
Bukankah cinta itu selalu memberi tanpa mengharapkan balasan? Dan ketika cinta itu berbalas maka itu adalah anugerah.
Dari dulu aku mencintainya dan dia pun pernah membalasnya, tanpa dia tahu bahwa aku sudah dari dulu mencintainya. Cintaku padanya dulu utuh tak tersentuh oleh orang lain dan bahkan olehnya, tapi akhirnya dia mampu menyentuhnya, menyentuh "rasa" untuknya yang tersimpan sejak dulu.
Aku memang tak bisa melupakannya, seenggaknya buat sekarang.
Akupun tak menyalahkan jika "rasa" itu masih ada, berkurang atau bahkan hilang dihatinya karena aku tahu Alloh akan mudah bisa membolak-balikkan hati manusia meski aku menginginkan "rasa" itu masih ada didalam hatinya.
Jangan salahkan aku jika "rasa" itu masih ada dihatiku dan aku belumingin menghilangkannya. Biarlah waktu dan dengan kuasa Alloh yang menuntun kemana "rasa" ini akan berlabuh.
Aku tak peduli apa katanya atau orang lain, tapi apa salah jika aku mengungkapkan apa yang kurasa dalam sebuah catatan-catatan yang tak berarti ini?
Entahlah... seperti ada beribu-ribu kata tentangnya yang masih tersimpan di benakku.
Sebenarnya ingin ku ucapka tapi aku tak bisa, entah aku terlalu takut atau apa tapi yang jelas aku tak bisa.
Aku memiliki sebuah "rasa" kepadanya, dari dulu sebelum dia mengenal aku hingga sekarang.
"Rasa" itu masih saja tumbuh di dalam hatiku dan seolah-oleh berkembang.
Aku sendiripun tak tahu apa artinya ini semua, yang pasti "rasa" ini berbeda ketika bersamanya.
Yang kurasakan bersama dengannya itu menyenangkan dan membuatku nyaman, padahal baru pertama kali dekat dan bersama. Aku juga mungkin termasuk tipe-tipe orang yang sulit merasa nyaman ketika orang bersama orang baru. Tapi dia...? Dia orang baru buat ku, pertama kali dekat dan bersama. Tapi aku sudah mendapatkan kenyamanan bersamanya.
Yang kurasakan seakan-akan aku dan dia memiliki sebuah connection aneh yang aku sendiripun tak mengerti mengapa bisa seperti itu. Rasanya semua tentangku dan tentangnya itu saling nyambung-menyambung. Apa dia juga merasakan seperti yang kurasakan?
Aku bahkan masih peduli padanya dan menyayanginya meski rasa yang pernah dia beri untukku itu sekarang entah masih ada, berkurang, atau bahkan hilang dengan seiring berjalannya waktu dan hadirnya orang baru dihidupnya.
Tapi tak begitu denganku, rasa itu ternyata masih ada dan berkembang dihatiku.
Tak sadarkah "kau" seberapa besar rasa ini?
Tak sadarkah "kau" bahwa melihatmu sebentar saja itu mampu menenangkan hatiku?
Tak sadarkah "kau" bahwa aku masih mengingat semua tengangmu? Kesukaanmu dan harapanmu itu masih tersimpan didalam memoriku.
Tak sadarkah "kau" bahwa dirimu sering hadir disetiap mimpi-mimpiku?
Tak sadarkah "kau" bahwa dirimu selalu aku bangga-banggakan ketika aku bersama teman-temanku?
Tak sadarkah "kau bahwa seperti apa pandangan orang lain terhadapmu itu tak akan merubah apapun, termasuk perasaanku kepadamu?
Tak sadarkah "kau" bahwa aku menginginkan yang terbaik untuk dirimu?
Seseorang bertanya kepadaku "Apa sih hebatnya dia, sampai kamu tak bisa melupakannya?"
Dan akupun hanya bisa menjawab "Hatiku merasa cocok dengannya dan aku merasa nyaman dengannya."
Semua orang berhak menyayangi siapapun, tak salah dan tak dosa! Tapi jangan disalahkan jika rasa sayang itu masih ada dihati.
Mungkin aku terlalu egois karena ternyata dihatiku masih ada dirinya dan masih belum tergantikan. Bahkan untuk sekedar memberi kesempatan orang lain untuk mengisi hari-harikupun aku masih tak mau, rasanya dirinya masih terlalu berarti untuk tergantikan orang lain.
Aku mencintainya, maka aku melepasnya. Ada banyak hal yang tak bisa dimengerti dengan logika, termasuk caraku mencintainya.
Bukankah cinta itu selalu memberi tanpa mengharapkan balasan? Dan ketika cinta itu berbalas maka itu adalah anugerah.
Dari dulu aku mencintainya dan dia pun pernah membalasnya, tanpa dia tahu bahwa aku sudah dari dulu mencintainya. Cintaku padanya dulu utuh tak tersentuh oleh orang lain dan bahkan olehnya, tapi akhirnya dia mampu menyentuhnya, menyentuh "rasa" untuknya yang tersimpan sejak dulu.
Aku memang tak bisa melupakannya, seenggaknya buat sekarang.
Akupun tak menyalahkan jika "rasa" itu masih ada, berkurang atau bahkan hilang dihatinya karena aku tahu Alloh akan mudah bisa membolak-balikkan hati manusia meski aku menginginkan "rasa" itu masih ada didalam hatinya.
Jangan salahkan aku jika "rasa" itu masih ada dihatiku dan aku belumingin menghilangkannya. Biarlah waktu dan dengan kuasa Alloh yang menuntun kemana "rasa" ini akan berlabuh.
Satu Nama Yang Tertulis Untukku di Lauh Mahfudz
Siapakah nama itu dan siapakah pemiliknya?
Apa aku mengenalnya?
Siapakah dia?
Seseorang yang telah ditakdirkan untukku sejak aku berada dalam kandungan ibuku.
Seseorang yang namanya tertulis untukku di Lauh Mahfudz.
Seseorang yang akan mengikatku dalam mitsaqan ghaliza.
Seseorang yang kepadanyalah ladang surga akan aku dapat.
Aku pikir seseorang yang pernah mengisi hatiku, yang namanya tak perlu aku sebut adalah pemilik nama yang tlah Kau tuliskan untukku di Lauh Mahfudz.
Aku tak peduli jika telah ada wanita yang lebih dulu mengisi hatinya, tapi aku berharap aku akan menjadi yang terakhir buatnya dan dia akan menjadi yang terakhir buatku.
Aku pernah berharap jika suatu hari nanti dia adalah orang pertama dan terakhir yang mengikatku dalam mitsaqan ghaliza, tapi mungkin Alloh mempunyai rencana yang hanya Dia yang tahu.
Wahai pemilik nama yang namamu tlah tertulis di Lauh Mahfudz...
Aku merindukanmu dan aku penasaran siapa dirimu.
Aku masih menanti, menanti dengan sabar dan ikhlas.
Siapapun dia aku yakin kalau dia adalah yang terbaik untukku.
Aku juga percaya bahwa segala sesuatu yang telah Dia tuliskan untukku di Lauh Mahfudz itu adalah yang terbaik untukku.
Ya Alloh... Masih bolehkah aku meminta?
Aku ingin pemilik nama yang telah Kau tuliskan untukku itu adalah orang yang baik.
Orang yang mampu membimbingku agar aku selalu di jalan Mu, mengingatkan kekhilafanku ketika aku melakukan kekhilafan, dan menerima diriku apa adanya.
Hatiku sering bertanya-tanya:
"Kapan saat indah itu akan terjadi dan kapan pemilik nama yang namanya tlah Kau tuliskan untukku di Lauh Mahfudz itu mengikatku? Mengikatku dalam suatu perjanjian suci yang kokoh, mitsaqan ghaliza?"
Aku yakin jika saat indah itu akan terjadi suatu hari nanti dengan cara yang indah pula.
Ingin aku mengabdi kepadanya dan memuliakannya dengan cintaku yang mungkin tak sempurna ini.
Apa aku mengenalnya?
Siapakah dia?
Seseorang yang telah ditakdirkan untukku sejak aku berada dalam kandungan ibuku.
Seseorang yang namanya tertulis untukku di Lauh Mahfudz.
Seseorang yang akan mengikatku dalam mitsaqan ghaliza.
Seseorang yang kepadanyalah ladang surga akan aku dapat.
Aku pikir seseorang yang pernah mengisi hatiku, yang namanya tak perlu aku sebut adalah pemilik nama yang tlah Kau tuliskan untukku di Lauh Mahfudz.
Aku tak peduli jika telah ada wanita yang lebih dulu mengisi hatinya, tapi aku berharap aku akan menjadi yang terakhir buatnya dan dia akan menjadi yang terakhir buatku.
Aku pernah berharap jika suatu hari nanti dia adalah orang pertama dan terakhir yang mengikatku dalam mitsaqan ghaliza, tapi mungkin Alloh mempunyai rencana yang hanya Dia yang tahu.
Wahai pemilik nama yang namamu tlah tertulis di Lauh Mahfudz...
Aku merindukanmu dan aku penasaran siapa dirimu.
Aku masih menanti, menanti dengan sabar dan ikhlas.
Siapapun dia aku yakin kalau dia adalah yang terbaik untukku.
Aku juga percaya bahwa segala sesuatu yang telah Dia tuliskan untukku di Lauh Mahfudz itu adalah yang terbaik untukku.
Ya Alloh... Masih bolehkah aku meminta?
Aku ingin pemilik nama yang telah Kau tuliskan untukku itu adalah orang yang baik.
Orang yang mampu membimbingku agar aku selalu di jalan Mu, mengingatkan kekhilafanku ketika aku melakukan kekhilafan, dan menerima diriku apa adanya.
Hatiku sering bertanya-tanya:
"Kapan saat indah itu akan terjadi dan kapan pemilik nama yang namanya tlah Kau tuliskan untukku di Lauh Mahfudz itu mengikatku? Mengikatku dalam suatu perjanjian suci yang kokoh, mitsaqan ghaliza?"
Aku yakin jika saat indah itu akan terjadi suatu hari nanti dengan cara yang indah pula.
Ingin aku mengabdi kepadanya dan memuliakannya dengan cintaku yang mungkin tak sempurna ini.
Langganan:
Komentar (Atom)